DAMPAK DAN SOLUSI PENGGUNAAN KERTAS YANG BERIRINGAN


What we have to do? Does paper make the ecosystem loses? Do we just want human desires fulfilled? What management should be done? what is the challenge of the next world?

 

Mengapa harus ada kertas ?

Apa itu kertas? Sebutan untuk bahan tipis dan rata yang dihasilkan dengan kompresi serat yang berasal dari pulp. Lantas, pulp adalah hasil dari pemisahan serat dari bahan baku berserat (kayu maupun non-kayu) melalui berbagai proses pembuatannya (mekanis, semikimia, kimia) dengan serat yang alami dan mengandung selulosa dan pentosan. Kita terutama manusia membutuhkan media utama untuk menulis, mencetak, serta melukis. Inilah kertas, dan sebenarnya masih banyak kegunaan lain yang dapat dilakukan dengan kertas, seperti kertas pembersih yang digunakan untuk hidangan atau biasa disebut tissue, kertas untuk kebersihan ataupun keperluan toilet. Meski penggunaan kertas mulai berkurang di era digital ini diakibatkan adanya pengiriman pesan melalui digital yang sangat efisien dalam segi waktu dan dana, tetapi kertas telah berjasa mengantarkan manusia memasuki zaman digital seperti saat ini. Adanya kertas merupakan revolusi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia. Sebelum ditemukan kertas, masyarakat dunia menggunakan prasasti dari batu, kayu, bambu, kulit binatang, kain, sutra bahkan daun lontar yang dirangkai untuk kegiatan tulis menulis dalam menyampaikan informasi pada masa itu.

Fakta Tentang Kertas

Menurut Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, konsumsi kertas dunia saat ini telah mencapai 394 juta ton dan diperkirakan akan naik hingga 490 ton di tahun 2020. Meskipun ada peningkatan penggunaan media sosial namun hampir 60-70% masyarakat dunia khususnya Asia masih menggunakan kertas untuk berbagai keperluan. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) mengatakan pada tahun 2013 Indonesia memiliki 82 industri pulp dan kertas yang terdiri atas 4 industri pulp, 73 industri kertas, serta 5 industri pulp kertas terintegrasi dengan kapasitas terpasang industri pulp dan kertas sebesar 18,96 juta ton. Dari sisi ekspor, Indonesia mampu mengekspor pulp sebesar 3,75 juta ton dengan nilai 1,85 miliar dolar AS dan mengekspor kertas sebesar 4,26 juta ton dengan nilai 3,76 miliar dolar AS. 

Kertas yang sudah terpakai dibuang, kemudian memakai kertas baru, apa yang terjadi ?

Setiap hari kita pasti menggunakan atau paling tidak berhubungan dengan kertas. Tanpa kita sadari, kita sering kali melakukan pemborosan dalam pemakaian kertas yang akhirnya akan berdampak buruk terhadap aspek lingkungan yaitu kertas yang merupakan salah satu penyebab fenomena global warming. Berikut merupakan beberapa hal yang perlu kita ketahui bersama tentang fakta kertas dan dampak pembuatan dan pemborosan kertas terhadap lingkungan kita.

ü     Setiap tahun hutan Indonesia yang hilang setara dengan luas Pulau Bali, yang artinya keras berasal dari pohon, pohon berasal dari hutan dan jika tidak memanfaatkan kertas dengan sebaik-baiknya berarti kita akan mempercepat penggundulan hutan yang akan berdampak terhadap terjadinya global warming.

ü  Satu rim kertas A4 menghabiskan sebatang pohon berumur 5 tahun, yang artinya kita harus melakukan pemakaian kertas A4 ini dan tidak membuang bekas-bekas kertas A4 begitu saja tetapi melakukan daur ulang sebaik mungkin.

ü  Jika kita menghemat 1 ton kertas, berarti kita juga menghemat 13 batang pohon besar, 400 liter minyak, 4.100 Kwh listrik dan 31.780 liter air.

ü  Suatu lahan pepohonan kayu keras setinggi 4 kaki, panjang 4 kaki dan lebar 8 kaki dapat menghasilkan 942.100 halaman buku atau setara dengan 4.384.000 perangko atau setara dengan 2.700 eksemplar koran.

ü      Untuk memproduksi 3 lembar kertas membutuhkan 1 liter air.

ü     1 kilogram kertas membutuhkan 324 liter air.

ü      Untuk memproduksi 1 ton kertas, dihasilkan kurang lebih 72.200 liter limbah cair dan 1 ton limbah padat, yang artinya jika kita sering melakukan pemborosan kertas maka semakin banyak juga kertas diperlukan dan semakin banyak juga pohon akan ditebang, yang mengakibatkan semakin banyak proses pembuatan kertas yang otomatis akan menghasilkan limbah pabrik kertas yang semakin banyak pula. Limbah ini akan sangat merusak lingkungan terutama sungai dan akan berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat sekitar.

ü     Jika kita bisa menghemat pemakaian kertas, kita dapat mengurangi kerusakan lingkungan. Untuk itu kita perlu juga mengadakan daur ulang kertas agar kertas tidak merusak lingkungan sekitar kita.

Dampak Penggunaan Kertas

Budaya konsumerisme mengantarkan kita pada dampak menipisnya sumber daya alam, terutama pada penggunaan kertas yang berlebihan. Penggunaan kertas di tingkat nasional, regional, maupun global bukan hanya sebatas kertas media ataupun kertas tulis. Lebih dari itu, masyarakat menggunakan kertas tidak kalah banyak pada konsumsi kertas tissue. Bayangkan tissue yang digunakan oleh masyarakat sebagai penghias atau pelengkap di meja makan, lap setelah makan, lap setelah mencuci tangan, dan sebagainya. Bukan hanya dalam skala rumah tangga, melainkan pada seluruh rumah makan, kafe, restroom, tempat mengobrol, kantor, ruang rapat, dan masih banyak lagi. Dengan penggunaan kertas yang begitu banyak, dan Indonesia merupakan salah satu produsen terbesar, maka tidak dipungkiri apabila dimungkinkan terjadinya pemanfaatan kayu sebagai bahan baku kertas secara besar besaran yang dapat merusak atau menurunkan kualitas ataupun kuantitas hutan. Penggunaan kertas secara berlebihan bukan hanya menurunkan kuantitas hutan karena produksi kayu dalam jumlah besar, lebih dari itu, kita harus dapat memikirkan keadaan yang diakibatkan oleh dampak secara langsung tersebut. 

Penurunan kualitas dan kuantitas hutan akibat penggunaan kertas dapat menimbulkan pemanasan global walaupun diawali dengan meningkatnya iklim mikro atau iklim lokal. Indonesia adalah salah satu produsen dan eksportir kertas terbesar di dunia. Indonesia memiliki bahan baku yang melimpah. Indonesia menjadi pemasok kertas terbesar kedua di Thailand dengan total impor 125,5 ribu ton dengan pangsa pasar mencapai 12,1% (APKI, 2014). Dalam persaingannya dengan negara lain, industri pulp and paper di Indonesia telah menghadapi beberapa kasus terkait anti-dumping diantaranya dari Korea Selatan untuk produk uncoated paper and paper board used for writing, printing, atau other graphic purpose serta carbon paper, self copy paper dan transfer paper. Kebijakan ini sebenarnya membantu agar produk pulp and paper dari Indonesia tidak dijual besar-besaran dengan harga yang murah dan lebih memperhatikan sistem pengelolaan sebelum penjualan dan pemasaran.

Tantangan Lingkungan ke Depan

Fenomena paperless yang saat ini sedang merebak disinyalir tidak akan berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan industri pulp and paper di dunia maupun di Indonesia. Terdapat empat tulisan pokok yang berkaitan dengan paperless, penebangan hutan yang dapat mereduksi emisi karbon, dumping dan safeguard, serta Standar Nasional Indonesia (SNI). Kontribusi media cetak seperti buku, koran dan lain sebagainya terhadap pemanasan global lebih rendah 10 kali lipat jika dibandingkan dengan penggunaan media digital akibat pemanfaatan energinya (BAPC, 2012). Jadi sebenarnya, dari segi energi, penggunaan kertas memakai energi lebih rendah dari media digital, namun dari segi penggunaan sumber daya alam, kertas lebih banyak mengambil alih. Sebuah CD atau DVD menghasilkan 300-350 gram CO2 per buah sedangkan buku dengan 100 halaman berwarna hanya menghasilkan sekitar 80 gram CO2 sehingga membaca koran atau media cetak lainnya menghasilkan CO2 lebih rendah per tahunnya daripada membaca berita online (Liverman, 2009 dalam APKI, 2014). 

Masalah terbesar dari penggunaan kertas sebenarnya adalah pemanfaatan kayu di hutan yang belum tertib, masih banyak menghasilkan limbah dari produksinya. Salah satu upaya untuk mereduksi hal tersebut adalah RIL-C atau Reduce Impact Logging and Low Carbon Emissions, yakni sistem pengelolaan hutan yang diperbaiki (improved forest management sistem) dalam perspektif perubahan iklim. Limbah dari sistem ini tidak sebesar penebangan biasa. Dengan demikian, produksi kayu dari hutan menjadi lebih optimal dan efisien sehingga bahan baku pulp and paper tergunakan dengan baik. Selain perbaikan dari proses di bagian hulu, bagian hilir tampaknya menjadi bagian yang juga terabaikan saat ini mengingat tingkat konsumsi kertas semakin tinggi. Pengurangan jumlah penggunaan kertas dengan menerapkan prinsip reuse, reduce, dan recycle dapat menjadi solusi sederhana yang berdampak besar. Kita juga bisa menggunakan kantong reusable untuk menggantikan kantong kertas sekali pakai.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

         Untuk mengurangi penggunaan kertas dapat dilakukan mulai dari diri sendiri, dengan menerapkan prinsip 3R yaitu recycle, reuse dan reduce. Prinsip yang mungkin sudah diketahui oleh banyak orang namun dalam penerapannya mungkin belum dapat maksimal. Untuk skala kecil yang dapat dilakukan oleh diri sendiri dengan cara mengurangi penggunaan kertas, di era digital kita dapat mengganti penggunaan kertas dengan cara menggunakan komputer jinjing atau telepon genggam, menggunakan kembali kertas kado pemberian orang lain, beralih dari membaca buku fisik ke buku elektronik, jika memiliki hobi mengoleksi buku fisik tertentu dapat disiasati dengan membeli buku bekas atau buku koleksi pribadi sehingga dapat mengurangi pembelian dan penggunaan kertas. Selanjutnya, kertas-kertas yang sudah digunakan dapat kita gunakan kembali dengan membuat kertas daur ulang sederhana, dengan membuat bubur kertas ditambah dengan perekat, dicetak dan dikeringkan, kertas pun dapat digunakan kembali atau dapat dibuat prakarya.

 

Referensi :

Berita Industri Pulp dan Kertas Indonesia. 2014. Melihat Masa Depan Pulp dan Kertas Indonesia. Jakarta: APKI.

Burns, Robert I. 1996. Paper comes to the West, 800−1400. Dalam Lindgren, Uta. Europäische Technik im Mittelalter. 800 bis 1400. Tradition und Innovation (edisi ke-4th). Berlin: Gebr. Mann Verlag. hlm. 413–422. ISBN 3-7861-1748-9.

 


Komentar