DAMPAK DAN SOLUSI PENGGUNAAN KERTAS YANG BERIRINGAN
Mengapa harus ada kertas ?
Apa itu kertas? Sebutan untuk bahan tipis dan rata yang dihasilkan dengan kompresi serat yang berasal dari pulp. Lantas, pulp adalah hasil dari pemisahan serat dari bahan baku berserat (kayu maupun non-kayu) melalui berbagai proses pembuatannya (mekanis, semikimia, kimia) dengan serat yang alami dan mengandung selulosa dan pentosan. Kita terutama manusia membutuhkan media utama untuk menulis, mencetak, serta melukis. Inilah kertas, dan sebenarnya masih banyak kegunaan lain yang dapat dilakukan dengan kertas, seperti kertas pembersih yang digunakan untuk hidangan atau biasa disebut tissue, kertas untuk kebersihan ataupun keperluan toilet. Meski penggunaan kertas mulai berkurang di era digital ini diakibatkan adanya pengiriman pesan melalui digital yang sangat efisien dalam segi waktu dan dana, tetapi kertas telah berjasa mengantarkan manusia memasuki zaman digital seperti saat ini. Adanya kertas merupakan revolusi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia. Sebelum ditemukan kertas, masyarakat dunia menggunakan prasasti dari batu, kayu, bambu, kulit binatang, kain, sutra bahkan daun lontar yang dirangkai untuk kegiatan tulis menulis dalam menyampaikan informasi pada masa itu.
Fakta
Tentang Kertas
Setiap hari kita pasti menggunakan atau paling
tidak berhubungan dengan kertas. Tanpa kita sadari, kita sering kali melakukan
pemborosan dalam pemakaian kertas yang akhirnya akan berdampak buruk terhadap
aspek lingkungan yaitu kertas yang merupakan salah satu penyebab fenomena global warming. Berikut merupakan
beberapa hal yang perlu kita ketahui bersama tentang fakta kertas dan dampak
pembuatan dan pemborosan kertas terhadap lingkungan kita.
ü Setiap tahun hutan Indonesia yang hilang setara
dengan luas Pulau Bali, yang artinya keras berasal dari pohon, pohon berasal
dari hutan dan jika tidak memanfaatkan kertas dengan sebaik-baiknya berarti
kita akan mempercepat penggundulan hutan yang akan berdampak terhadap
terjadinya global warming.
ü Satu rim kertas A4 menghabiskan sebatang pohon
berumur 5 tahun, yang artinya kita harus melakukan pemakaian kertas A4 ini dan
tidak membuang bekas-bekas kertas A4 begitu saja tetapi melakukan daur ulang
sebaik mungkin.
ü Jika kita menghemat 1 ton kertas, berarti kita
juga menghemat 13 batang pohon besar, 400 liter minyak, 4.100 Kwh listrik dan
31.780 liter air.
ü Suatu lahan pepohonan kayu keras setinggi 4 kaki,
panjang 4 kaki dan lebar 8 kaki dapat menghasilkan 942.100 halaman buku atau
setara dengan 4.384.000 perangko atau setara dengan 2.700 eksemplar koran.
ü Untuk memproduksi 3 lembar kertas membutuhkan 1
liter air.
ü 1 kilogram kertas membutuhkan 324 liter air.
ü Untuk memproduksi 1 ton kertas, dihasilkan kurang
lebih 72.200 liter limbah cair dan 1 ton limbah padat, yang artinya jika kita
sering melakukan pemborosan kertas maka semakin banyak juga kertas diperlukan
dan semakin banyak juga pohon akan ditebang, yang mengakibatkan semakin banyak
proses pembuatan kertas yang otomatis akan menghasilkan limbah pabrik kertas
yang semakin banyak pula. Limbah ini akan sangat merusak lingkungan terutama
sungai dan akan berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat sekitar.
ü Jika kita bisa menghemat pemakaian kertas, kita dapat mengurangi kerusakan lingkungan. Untuk itu kita perlu juga mengadakan daur ulang kertas agar kertas tidak merusak lingkungan sekitar kita.
Dampak
Penggunaan Kertas
Penurunan kualitas dan kuantitas hutan akibat penggunaan kertas dapat menimbulkan pemanasan global walaupun diawali dengan meningkatnya iklim mikro atau iklim lokal. Indonesia adalah salah satu produsen dan eksportir kertas terbesar di dunia. Indonesia memiliki bahan baku yang melimpah. Indonesia menjadi pemasok kertas terbesar kedua di Thailand dengan total impor 125,5 ribu ton dengan pangsa pasar mencapai 12,1% (APKI, 2014). Dalam persaingannya dengan negara lain, industri pulp and paper di Indonesia telah menghadapi beberapa kasus terkait anti-dumping diantaranya dari Korea Selatan untuk produk uncoated paper and paper board used for writing, printing, atau other graphic purpose serta carbon paper, self copy paper dan transfer paper. Kebijakan ini sebenarnya membantu agar produk pulp and paper dari Indonesia tidak dijual besar-besaran dengan harga yang murah dan lebih memperhatikan sistem pengelolaan sebelum penjualan dan pemasaran.
Tantangan
Lingkungan ke Depan
Fenomena paperless yang saat ini sedang merebak disinyalir tidak akan berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan industri pulp and paper di dunia maupun di Indonesia. Terdapat empat tulisan pokok yang berkaitan dengan paperless, penebangan hutan yang dapat mereduksi emisi karbon, dumping dan safeguard, serta Standar Nasional Indonesia (SNI). Kontribusi media cetak seperti buku, koran dan lain sebagainya terhadap pemanasan global lebih rendah 10 kali lipat jika dibandingkan dengan penggunaan media digital akibat pemanfaatan energinya (BAPC, 2012). Jadi sebenarnya, dari segi energi, penggunaan kertas memakai energi lebih rendah dari media digital, namun dari segi penggunaan sumber daya alam, kertas lebih banyak mengambil alih. Sebuah CD atau DVD menghasilkan 300-350 gram CO2 per buah sedangkan buku dengan 100 halaman berwarna hanya menghasilkan sekitar 80 gram CO2 sehingga membaca koran atau media cetak lainnya menghasilkan CO2 lebih rendah per tahunnya daripada membaca berita online (Liverman, 2009 dalam APKI, 2014).
Masalah terbesar dari penggunaan kertas sebenarnya adalah pemanfaatan kayu di hutan yang belum tertib, masih banyak menghasilkan limbah dari produksinya. Salah satu upaya untuk mereduksi hal tersebut adalah RIL-C atau Reduce Impact Logging and Low Carbon Emissions, yakni sistem pengelolaan hutan yang diperbaiki (improved forest management sistem) dalam perspektif perubahan iklim. Limbah dari sistem ini tidak sebesar penebangan biasa. Dengan demikian, produksi kayu dari hutan menjadi lebih optimal dan efisien sehingga bahan baku pulp and paper tergunakan dengan baik. Selain perbaikan dari proses di bagian hulu, bagian hilir tampaknya menjadi bagian yang juga terabaikan saat ini mengingat tingkat konsumsi kertas semakin tinggi. Pengurangan jumlah penggunaan kertas dengan menerapkan prinsip reuse, reduce, dan recycle dapat menjadi solusi sederhana yang berdampak besar. Kita juga bisa menggunakan kantong reusable untuk menggantikan kantong kertas sekali pakai.
Apa yang Harus Kita Lakukan?
Referensi :
Berita Industri Pulp dan Kertas Indonesia. 2014. Melihat Masa Depan Pulp dan Kertas Indonesia. Jakarta: APKI.
Burns, Robert I. 1996. Paper comes to
the West, 800−1400. Dalam Lindgren, Uta. Europäische Technik im
Mittelalter. 800 bis 1400. Tradition und Innovation (edisi ke-4th). Berlin:
Gebr. Mann Verlag. hlm. 413–422. ISBN 3-7861-1748-9.
Komentar
Posting Komentar